VRRP di Mikrotik, Redundansi Gateway Jaringan
Pendahuluan
Jika pada post sebelumnya penulis menyajikan redundansi terhadap routing/link jaringan melalui routing OSPF, maka kali ini penulis akan menunjukkan bagaimana redundansi terhadap perangkat router yang menjadi gateway banyak client. Ketika suatu perangkat router mengalami fail maka otomatis packet dibawah router tidak bisa diteruskan, sehingga diciptakan protokol VRRP (Virtual Router Redundancy Protocol) untuk menanggulangi masalah tersebut. Protokol ini akan menyiapkan suatu perangkat router lain sebagai backup apabila router utama gagal. Perangkat-perangkat dibawahnya tidak perlu mengganti IP Gateway karena dengan protokol ini akan disematkan IP pada interface virtual yang dihandle oleh lebih dari 1 router.
Pembahasan
Pada percobaan kali ini, dibuat topologi seperti berikut:
Keterangan:
- Jaringan client dan router akan mengambil 10.10.1.0/28
- IP untuk interface VRRP adalah 10.10.1.10. IP ini yang akan digunakan perangkat jaringan dibawah router sebagai gateway.
- Mikrotik-1 dipasang IP pada ether2 10.10.1.1
- Mikrotik-2 dipasang IP pada ether2 10.10.1.2
- Mikrotik-2 menjadi gateway/router utama sehingga nilai priority pada interface VRRP harus lebih tinggi dibanding router backup, sedangkan mikrotik-1 menjadi backup.
- Masing-masing router sudah dikonfigurasi NAT, DNS, dan DHCP-Server pada ether2.
- Para VPCS sudah melakukan DHCP request dan binding IP.
Konfigurasi pada mikrotik-1:
/interface vrrp
add interface=ether2 name=vrrp1 priority=1 vrid=14
/ip address
add address=10.10.1.1/28 interface=ether2 network=10.10.1.0
add address=10.10.1.10 interface=vrrp1 network=10.10.1.10
Konfigurasi pada mikrotik-2:
/interface vrrp
add interface=ether2 name=vrrp1 priority=2 vrid=14
/ip address
add address=10.10.1.2/28 interface=ether2 network=10.10.1.0
add address=10.10.1.10 interface=vrrp1 network=10.10.1.10
Kemudian jika sudah, perangkat VPCS diuji koneksi ke sebuah alamat publik dan dipantau rute yang diambil.
Gambar 3. Trace ke 1.1.1.1 melalui VPCS1
Pada gambar 3, perangkat menghubungi 10.10.1.2 pada jalur menuju 1.1.1.1. IP 10.10.1.2 merupakan milik mikrotik-2 yang dijadikan sebagai router utama / gateway. Kemudian mikrotik-2 dimatikan dan dilakukan lagi tracing ke 1.1.1.1.
Gambar 4. Mikrotik-2 dimatikan.
Gambar 5. Trace ke 1.1.1.1 melalui VPCS1
dengan keadaan mikrotik-2 sudah dimatikan.
Pada gambar 3. VPCS1 menghubungi 10.10.1.2 namun pada gambar 5. menghubungi 10.10.1.1 yang merupakan mikrotik-1. Hal ini membuktikan bahwa forwarding packet diambil alih oleh mikrotik-1 ketika mikrotik-2 sedang down.
Kesimpulan
Redundansi merupakan hal yang penting dihadirkan pada sebuah infrastruktur jaringan untuk menunjang availability yang tinggi. Jika redundansi pada tingkat rute link routing sudah bisa ditangani oleh protokol routing masing-masing, maka untuk redundansi tingkat perangkat router gateway dapat menggunakan VRRP. VRRP dapat menjamin backup jalur komunikasi ketika sebuah router utama down tanpa harus perangkat dibawahnya mengganti IP gateway secara manual.